24.6.11

Cinta dunia

Cinta dunia
membuatkan manusia cintakan diri
Cintakan diri
membawa manusia hidup nafsu-nafsi
Cintakan dunialah
membawa pecahnya sanak saudara
Apatah lagi sekadar kenalan dan kawan-kawan biasa

Cintakan duniahilang kasih sayang sesama manusia
Cinta dunialah yang membunuh kasih sayang
dan memecahkan perpaduan keluarga dan bangsa
Akhirnya timbul perpecahan dan perseteruan di kalangan manusia
Pergaduhan pun berlaku, perkelahian terjadi  peperangan berlaku

Cintakan dunia ibarat racun membunuh kasih sayang
Cinta dunia adalah musuh manusia sejagat
Tapi manusia tidak sedar dan tidak faham
Sungguh kejam cinta dunia itu
Ia mengharu-birukan kehidupan manusia
Ia merenggangkan persaudaraan,
memecah-belahkan bangsa dan saudara


17.6.11

Kecewa itu ada....marah itu menyala

Jangan Tanya ombak di lautan
Yang berdebur pun bagai enggan 
Kecewa itu ada, benci itu pasti 
Dan semuanya yang berbuih 
Ikut sirami bunga yang berduri 
Tebaran makar para penguasa
Membakar laksana kenanganmu
Membunuh separuh jiwaku

Hidupku hanya sebatas perilaku
Luka itu ada, marah itu menyala 
Tapi aku hanya bisa begini 
Meratapi diri

Terimakasih zahir dan batin...
Telah menjadi mataku 
saatku tak dapat melihat 
Menjadi bibirku 
saatku tak dapat bicara
Terima kasih awal dan akhir...
Suatu saat ….jika aku terjatuh 
Engkau pasti mau memapah ku 
Kini aku harus terus bertahan
Di tengah keruntuhan ku
Seperti debur ombak di lautan
Walau enggan…


purnama kata

13.6.11

Menakar sepi

Bisakah kita menakar air di lautan
menjadi sebuah kubangan,
mencoba memandikan lumpur  menjadi lukisan cermin.
Semakin keruh dalam pandangan,
mencengkram  panah dengan bidikan
Siapa dia,
sosok bersembunyi di balik cermin
tak pantas berkata dalam ingatan.?
-
Tiada wujud di dalam kesendirian,
Jangan jadikan pesakitanmu sebagai alasan,
Jauh,
dalam bilik kelam yang di tinggalkan,
Hanya kesah, kisah, terurai rerumputan
bukan seorang
penikmat senja, senantiasa akrab dengannya
penikmat malam, mata susah untuk terpejam
penikmat mentari, mencoba hadir di setiap pagi
abu terbawa debu,
arah jam berpaling diam tak menjawabku

11.6.11

Sajak hampa

Aku kehabisan kosa kata
untuk sebuah sajak hampa yang berlinang air mata,
hingga semakin sunyi dalam keriuhan

Kataku gemericik bagai gerimis
tak mampu menembus dinding yang kian menebal,
hingga asa yang kulambungkan
tergelincir memilukan
diantara onak yang menantang,
nyeri semakin nyeri

Aku berteriak dalam diam,
kusimpan sepenggal harapan dalam angan
kurelakan angin berbelok arah tanpa pesan
membawa gerimis yang pernah kupesan
senja kian sunyi
hampa.

Lembah Tidar

10.6.11

Mencari Ketulusan Hatimu

Berkelana Kemana jiwaku terhantar
Tatkala seucap Cinta telah ku lontar
Aku jalani dan terus aku jalani
Meski keraguan hati menggebu
Laksana ombak deras yang menghempas
Aku berhenti sejenak
merenungkan tanda tanya
yang setiap waktu mengetuk pintu kalbu
Adakah ketulusan
Aku mencari dan terus mencari
Bersama gelap langkahku
aku pilu dan terus meragu
meski telah kau simpan pelangi di hati
meski telah engkau izinkan
hatimu menjadi rumah hatiku
Selalu muncul tanya di benaku
benarkah semua ini
biarlah sang pengatur waktu
yang berikan jawaban
Dan biarlah pula
aku terus mencari
hingga kutemukan terang
laksana rembulan menunggu mentari

27.4.11

hidup

Setelah diri bertambah besar
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,
Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,

Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,

Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirehat di liang kubur,

Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tengang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,

Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,

Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,

Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keredhaan Allah, itulah tuju,

Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,

Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak peranda,

Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,

Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jejang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,

Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,

Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,

Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,

Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya

~hamka~

6.4.11

zawjati...

Lafaz akadmu
adalah mahar cinta buatku
mewah kasihmu
adalah kekayaan bagiku
cinta yang kau beri
anugerah terindah untukku


kasih sayangmu
merentas masa dan usia
pengertian yang tiada tara
menjadikan aku kekasih sejati


kau jadikan aku
sesempurna hiasan duniawi
kau lengkapi aku
sesuci kasih ibu mithali
kurnia pelengkap wanita....
adalah satu keajaiban bagiku
menjadi seorang ibu
kepada zuriatmu....

masih kuharap redha mu
menuju alam abadi
andai ada jodoh nanti
doaku bersama kembali
kerana aku masih lagi berusaha
menjadi seorang zawjati....