Aku kehabisan kosa kata
untuk sebuah sajak hampa yang berlinang air mata,
hingga semakin sunyi dalam keriuhan
Kataku gemericik bagai gerimis
tak mampu menembus dinding yang kian menebal,
hingga asa yang kulambungkan
tergelincir memilukan
diantara onak yang menantang,
nyeri semakin nyeri
Aku berteriak dalam diam,
kusimpan sepenggal harapan dalam angan
kurelakan angin berbelok arah tanpa pesan
membawa gerimis yang pernah kupesan
senja kian sunyi
hampa.
Lembah Tidar
11.6.11
10.6.11
Mencari Ketulusan Hatimu
Berkelana Kemana jiwaku terhantar
Tatkala seucap Cinta telah ku lontar
Aku jalani dan terus aku jalani
Meski keraguan hati menggebu
Laksana ombak deras yang menghempas
Aku berhenti sejenak
merenungkan tanda tanya
yang setiap waktu mengetuk pintu kalbu
Adakah ketulusan
Aku mencari dan terus mencari
Bersama gelap langkahku
aku pilu dan terus meragu
meski telah kau simpan pelangi di hati
meski telah engkau izinkan
hatimu menjadi rumah hatiku
Selalu muncul tanya di benaku
benarkah semua ini
biarlah sang pengatur waktu
yang berikan jawaban
Dan biarlah pula
aku terus mencari
hingga kutemukan terang
laksana rembulan menunggu mentari
Tatkala seucap Cinta telah ku lontar
Aku jalani dan terus aku jalani
Meski keraguan hati menggebu
Laksana ombak deras yang menghempas
Aku berhenti sejenak
merenungkan tanda tanya
yang setiap waktu mengetuk pintu kalbu
Adakah ketulusan
Aku mencari dan terus mencari
Bersama gelap langkahku
aku pilu dan terus meragu
meski telah kau simpan pelangi di hati
meski telah engkau izinkan
hatimu menjadi rumah hatiku
Selalu muncul tanya di benakubenarkah semua ini
biarlah sang pengatur waktu
yang berikan jawaban
Dan biarlah pula
aku terus mencari
hingga kutemukan terang
laksana rembulan menunggu mentari
27.4.11
hidup
Setelah diri bertambah besar
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,
Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,
Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,
Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirehat di liang kubur,
Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tengang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,
Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,
Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,
Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keredhaan Allah, itulah tuju,
Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,
Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak peranda,
Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,
Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jejang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,
Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,
Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,
Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,
Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya
~hamka~
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,
Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,
Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,
Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirehat di liang kubur,
Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tengang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,
Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,
Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,
Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keredhaan Allah, itulah tuju,
Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,
Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak peranda,
Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,
Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jejang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,
Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,
Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,
Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,
Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya
~hamka~
6.4.11
zawjati...
Lafaz akadmu
adalah mahar cinta buatku
mewah kasihmu
adalah kekayaan bagiku
cinta yang kau beri
anugerah terindah untukku
kasih sayangmu
merentas masa dan usia
pengertian yang tiada tara
menjadikan aku kekasih sejati
kau jadikan aku
sesempurna hiasan duniawi
kau lengkapi aku
sesuci kasih ibu mithali
kurnia pelengkap wanita....
adalah satu keajaiban bagiku
menjadi seorang ibu
kepada zuriatmu....
masih kuharap redha mu
menuju alam abadi
andai ada jodoh nanti
doaku bersama kembali
kerana aku masih lagi berusaha
menjadi seorang zawjati....
adalah mahar cinta buatku
mewah kasihmu
adalah kekayaan bagiku
cinta yang kau beri
anugerah terindah untukku
kasih sayangmu
merentas masa dan usia
pengertian yang tiada tara
menjadikan aku kekasih sejati
kau jadikan aku
sesempurna hiasan duniawi
kau lengkapi aku
sesuci kasih ibu mithali
kurnia pelengkap wanita....
adalah satu keajaiban bagiku
menjadi seorang ibu
kepada zuriatmu....
masih kuharap redha mu
menuju alam abadi
andai ada jodoh nanti
doaku bersama kembali
kerana aku masih lagi berusaha
menjadi seorang zawjati....
4.4.11
cinta
Cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya.
Namun jika engkau mencintai disertai berbagai keinginan,
wujudkanlah dia jadi keinginanmu:
Meluluhkan diri,
mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat perngetianmu sendiri tentang cinta,
serta meneteskan darah suka rela serta suka cita,
terjaga di fajar subuh dengan hati seringan awan......
Namun jika engkau mencintai disertai berbagai keinginan,
wujudkanlah dia jadi keinginanmu:
Meluluhkan diri,
mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat perngetianmu sendiri tentang cinta,
serta meneteskan darah suka rela serta suka cita,
terjaga di fajar subuh dengan hati seringan awan......
30.3.11
rindu dan cemburu
mendung menggantung
tanda nyanyian hujan kan datang
rindu masih ada
dan cemburu menemaninya
ketakterwujudan adalah sakit
yang tertunda
terimalah rindu dan cemburu
untaian kata terjalin
kalimat tak bernada
menggapai rasa rindu
dalam bayang malam
bersama kecewa dalam buaian
kukirim salam rindu bersama cemburu
kukirim dalam doaku
untukmu
tanda nyanyian hujan kan datang
rindu masih ada
dan cemburu menemaninya
ketakterwujudan adalah sakit
yang tertunda
terimalah rindu dan cemburu
untaian kata terjalin
kalimat tak bernada
menggapai rasa rindu
dalam bayang malam
bersama kecewa dalam buaian
kukirim salam rindu bersama cemburu
kukirim dalam doaku
untukmu
Lihatlah diri kita
Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasah wajah dengan air wudhu yang segar.
Sesudah melaksanakan solat dan berdoa. Cubalah menghadap cermin di dinding.
Di sana kita mulai meneliti diri :
1.Lihatlah kepala kita!
Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?
2. Lihatlah mata kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
3. Lihatlah telinga Kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
4. Lihatlah hidung Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?
5. Lihatlah mulut kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
6. Lihatlah tangan Kita!
Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, rasuah, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?
7. Lihatlah kaki Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
8. Lihatlah dada Kita!
Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang,sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riak?

9. Lihatlah diri kita!
Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?
Renung-renungkanlah!
Sesudah melaksanakan solat dan berdoa. Cubalah menghadap cermin di dinding.
Di sana kita mulai meneliti diri :
1.Lihatlah kepala kita!
Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?
2. Lihatlah mata kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
3. Lihatlah telinga Kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
4. Lihatlah hidung Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?
5. Lihatlah mulut kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
6. Lihatlah tangan Kita!
Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, rasuah, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?
7. Lihatlah kaki Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
8. Lihatlah dada Kita!
Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang,sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riak?

9. Lihatlah diri kita!
Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?
Renung-renungkanlah!
Langgan:
Catatan (Atom)



