26.9.11

Kadang-kadang kita lupa.....

Bila kita memulakan sesuatu...
Kadang-kadang kita lupa letakkan niat
Kadang-kadang kita lupa baca Bismillah
Sebab tu bila ada masalah,
Kita cepat menyerah..

Bila kita berniat...Kadang-kadang kita lupa letakkan usaha,
Kadang-kadang kita tunggu disergah baru hendak mengolah,
Sebab tu bila kerja tak menjadi,
Kita mula angkat kaki...

Bila kita berusaha...
Kadang-kadang lupa pula hendak berdoa,
Siang malam kerah tenaga dan masa...
Sebab tu bila kerja masih tak sempurna,
Kita mudah putus asa...

Bila kita berniat, berusaha dan berdoa...
Kadang-kadang kita lupa pula untuk bertawakkal pada Yang Esa.
Bertawakal pun pada bicara tapi di hati masih buta.
Sebab tu bila dilanda masalah,
Kita marah tak tentu hala...

Bila kita berniat, berusaha, berdoa dan bertawakal...
Kadang-kadang kita tetap alpa,
Nak sebut Alhamdulillah pun payah,
Berdoa pun sekali sekala,
Bersyukur sekejap cuma..
Sebab tu bila kita berjaya,
Allah datangkan ujian dan musibah...
Supaya kita ingat dan kembali ke jalan redha,
Tetapi kita kecewa sampai mencari jalan mudah..
Membenci diri memusuhi nadi.

Sedangkan...
Kita manusia ciptaan Allah,
Bernafas di udara yang sama,
Bila lemah Allah itu ada,
Bila derita Allah itu bersama,
Senang, susah, sedih, gembira...
Allah takkan lupa pada langkah kita.
Tapi sememangnya lahiriah kita,
Kadang-kadang lebih suka dipuji,
Sebab itu kita jarang memuji Yang Maha Terpuji,
Kadang-kadang lebih suka dicintai,
Sebab itu kita lupa menyintai Yang Maha Menyintai,
Kadang-kadang kita lebih suka menyendiri,
Tapi lupa Allah sedang memerhati...
Sebab itu teruskanlah bermuhasabah pada pencipta,
Kerana dalam firman Allah;

"Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya. (Ar-Ra'd:11)"


Kerana itu..
Pada masalah harus bersabar dan redha

Pada ujian harus tabah dan teguh
 Pada kejayaan harus usaha, doa dan tawakkal..

Sama tetapi tidak serupa

Kerana kejayaan di dunia bukan pengukur kejayaan di sana
Kekayaan harta di dunia bukan jaminan kebahagiaan di sana
Kesusahan dan penderitaan di dunia belum tentu bersambung di sana
Kealpaan kita di dunia pasti menjadi kesakitan kita di sana...

Di sana itulah yang perlu kita kejar,
Agar dunia mengikuti dengan redha...
Di sana,
Akhirat yang pasti...
Syurga yang terindah,
Atau

Neraka yang menyala!










25.9.11

LIHATLAH DIRI KITA....


Lihatlah diri kita

Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasah wajah dengan air wudhu yang segar.
Sesudah melaksanakan solat dan berdoa. Cubalah menghadap cermin di dinding.
Di sana kita mulai meneliti diri :

1.Lihatlah kepala kita!
Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?

2. Lihatlah mata kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?

3. Lihatlah telinga Kita!
Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?

4. Lihatlah hidung Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?

5. Lihatlah mulut kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?

6. Lihatlah tangan Kita!
Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, rasuah, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?

7. Lihatlah kaki Kita!
Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?

8. Lihatlah dada Kita!
Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang,sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riak?

9. Lihatlah diri kita!
Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

RENUNG-RENUNGKANLAH!















22.9.11

Ingatilah Mati Yang MATI



Bangkitku dari lena pagi ini seperti hari-hari yang berlalu.
Masih diizinkan Ar Rahiim untukku menghirup secangkir kehidupan. 
Menghirup nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung banyaknya 

menguji iman di hati adakah bersyukur atau alpa. 
Pintu hari dikuak dan sehari lagi kita mendekati saat kematian yang telah ditentukan itu.
Peliknya, hati seakan-akan lupa hakikat itu dek kesibukan duniawi yang melalaikan kita dari mengingati suatu kematian yang pasti. 
Mati seolah-olah “mati” dalam hidup kita.

 
Saban hari orang bersengketa –

 tentang itu dan ini, berebut kuasa, mengecam dan mendabik dada. 
Harta, kuasa, nama dan populariti 

jadi hijab yang menghilangkan bayang-bayang mati yang mengikut kemana sahaja manusia pergi.
Cinta dunia melenyapkan hakikat adanya sebuah kehidupan yang abadi.

 
Kita tidak tergamak,
bermusuhan sesama saudara, 
sesama sahabat dan sesama Islam 
kalau kita kita ingatkan mati. 
Kita tidak akan berdendam, marah, memfitnah dan melakukan pelbagai penganiayaan 
jika sedar kita sendiri akan menghadap Allah yang mengetahui tentang kita segala dan semuanya. 
Baik, mulia, agung dan hebat sangatkah kita?
Wahai diriku dan saudara-saudariku, 

mari kita kenangkan saat berpisah yang pasti menjengah
.
Kenangkanlah saat yang dibimbangkan oleh orang-orang yang soleh itu.
Hayati apa yang ditangisi oleh Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali RA itu. 
Mereka mengikut jejak kekasih mereka Rasulullah SAW yang sentiasa mengingati mati. 
Itulah sumbu bagi pelita kehidupan mereka


Tanpa ingat mati, apalah guna hidup ini…
Hari ini, urut dadamu, pejamkan matamu… istirehat seketika dan katakan:
“Wahai diri, aku akan mati”! 
Kemudian bukalah mata, 

dan sematkan di hati bahawa segala ujian hidup ini adalah kecil dan sedikit 
berbanding apa yang akan dihadapi nanti. 
InsyaAllah, 

akan lapanglah hati… dan mulut mampu tersenyum 
dengan segala cabaran yang mendatang. 
Masakan orang yang melihat singa berhampirannya masih merungut tentang seekor semut yang menggigit kakinya?


Begitulah diriku dan saudara-saudariku,
keyakinan kepada kehidupan akhirat akan memberi kekuatan dalam menghadapi kehidupan di dunia.
Kenangkanlah saat berpisah kerana…
Saat perpisahan itu pasti tiba.
Dan tidak ada masa yang sesuai untuk saat itu.
Jika datangnya kita tidak diminta, maka perginya tidak diduga.
Bila sanggup hidup, mesti sanggup mati. 
Bila sanggup datang, mesti sanggup pulang. 
Kita hanya menghabisi bilah-bilah hari yang telah ditentukan. 
Tujuan ke sini untuk diuji… tiba masanya pasti kembali!
Mengapa terlalu enggan untuk berpisah? 
Nikmat sangatkah dunia ini? 
Padahal senang dan susah bertukar ganti, suka dan duka datang dan pergi.
Tidak ada yang kekal lama, semuanya bersifat sementara. 
Jika mati tidak memisahkan, kesenangan ini pun akan pergi jua.
Kata mereka yang arif tentang kehidupan:

“Manusia lahir bersama tangisan, dicelahi kehidupannya oleh tangisan dan akan dihantar ke pusara oleh tangisan.”

Pernahkah ada kesenangan yang abadi dan hakiki? 
Tidak ada. 
Justeru, hiduplah berpada-pada. 
Hiduplah bagai musafir lalu yang singgah bagaikan dagang di rantau orang.
Hatinya tetap merindui kampung halaman.
Hiduplah bagai orang yang sedang menyeberangi satu jambatan. 
Tidak sudi berlama-lama kerana di situ hanya sementara. 

Kakinya melangkah kencang justeru jiwanya sudah di seberang.

Hidup mesti sederhana kerana dunia ini sementara. 
Sederhana itu bukan pada ringgit dan harta tetapi pada jiwa dan rasa.
Jangan terlalu gembira, jangan terlalu berdukacita. 
Tidak ada kesenangan yang tidak diiringi kesukaran 

dan tidak ada kesukaran yang tidak diiringi kesenangan.
Selepas ketawa, pasti menyusul air mata. 
Selepas nestapa pasti kegembiraan menjelma.
Allah memberikan kita terang… untuk bersyukur.
Allah berikan kita gelap… untuk bersabar.
Jadilah insan lara yang temannya mujahadah dan taubat. 
Sentiasalah berusaha menjadi insan yang baik walaupun masih digamit oleh ghairah kejahatan dan dosa.

 
Jatuh, bangun kembali. 
Jatuh, bangun lagi. 
Ukirlah seribu taubat walaupun telah berkali-kali ia dimungkiri. 
Allah tidak akan jemu taubat hamba-Nya selagi kita tidak putus asa kepada-Nya. 
Tempuhi jalan mujahadah sekalipun langkahmu pernah goyah.
Jangan mengalah.
Kau tidak akan kalah selagi tidak mengalah.
Luruskan jalan menuju Tuhan dengan tulusnya hati sesama insan.
Elakkan hasad, jauhi mengumpat.
Jika tidak mampu menambah, jangan mengurang.
Jika tidak mampu menjulang, jangan menghalang. 
Ingat selalu kata hukama:

“Jika tidak mampu menjadi garam yang memasinkan ikan, jangan jadi lalat yang membusukkannya.”

Jika tidak dapat mengucapkan perkataan yang baik, banyakkan diam. 
Jika memberi nasihat dirasakan terlalu berat, 

cukuplah dengan menghulurkan doa dan munajat. 
Setiap kita mempunyai kelebihan. 
Kata orang, Tuhan tidak mencipta manusia bodoh… 
Tuhan mencipta manusia dengan kebijaksanaan berbeza. 
Justeru, carilah apakah “kebijaksanaan” itu kerana itulah saluran kita untuk berbakti.


Ketika rasa takut singgah oleh kebimbangan dijemput maut… 

katalah pada diri, bila berdepan dengannya kita akan lupa segala-galanya.
Kesayangan yang kita takutkan kehilangannya, 

kecintaan yang kita bimbangkan perpisahan dengannya, 
akan menjadi sedebu bila berdepan dengan detik itu. 
Kita akan terlupa akan jalan yang telah jauh kita tinggalkan di belakang 

kerana memandangkan jalan yang lebih jauh merentang di haadapan.
 
Sesungguhnya mati itu bukan satu pengakhiran
tetapi satu permulaan kepada satu kehidupan yang lebih sejati dan hakiki. 
Mati itu hanya proses perpindahan – dari alam dunia ke alam barzakh.
Sama seperti kelahiran – proses berpindah dari alam rahim ke alam dunia.
Ya, kalau sanggup datang. 
Mesti sanggup pulang. 
Hati sewajarnya sentiasa merasa bertemu tak jemu, berpisah tak gelisah.
Bukankah kita bertemu untuk berpisah?
Dan berpisah untuk bertemu? 
Semoga kembara kita di dunia akan tiba bersama di hujung destinasinya… syurga!

Insyaallah....


16.9.11

Wahai kekasihku....wahai yag dipuja, wahai yang dipuji

LAW KANA BAINANA

Puisi Intro
----------
Wahai Tuhanku, kami telah lalai lupa,
Namun setiap orang daripada kami tetap tamakkan,
Keampunan-Mu, dan sifat pemurah-Mu dan kebebasan daripada neraka-Mu,
Dan juga kami tamakkan syurga, yang dimasuki bersama-sama penghulu seluruh manusia.

Kami mohon pada-Mu...
Mohon dengan sangat, wahai Tuhanku,
Dari sudut hati kami yang paling dalam...

Start
-----
Kalaulah Kekasih-Mu, masih berada bersama-sama kami,
Akan terlunaslah segala hutang dan semakin hampirlah
dengan haruman Baginda, sebelum hilangnya,
rasa yang meronta-ronta untuk berada hampir dengan Kekasih-Mu.

Berada berhampiran Baginda, jiwa turut menjadi harum
Dan apa jua yang kalian doakan kepada Allah, akan diperkenankan,
Cahaya Nabi Muhammad tidak akan pernah sirna,
Sempatkanlah kami bertemu dengan Baginda,
Wahai Tuhan yang Maha Memperkenankan doa hamba...

Hidayahmu kepada alam merata meluas,
Tanda hampirnya kasih sayang Tuhan pemberi hidayah,
Hadith-hadithmu ibarat sungai mengalir jernih,
Berada di sisimu bagaikan dahan yang tumbuh segar dan basah.

Kutebus diriku dengan dirimu, wahai Kekasihku,
Nabi Muhammad yang mulia, yang asing,
Berada berhampiranmu, jiwa menjadi harum,
Wahai yang diutuskan sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam....

Wahai Kekasihku, wahai Nabi Muhammad
Wahai doktor hatiku, wahai yang dipuji dipuja
Dirimu memiliki kelebihan yang diakui
Oleh Tuhan yang turut berselawat ke atasmu.




14.9.11

Dari jauh....

dari jauh aku memandangmu
lewat senua mata hatiku...
dari jauh aku mengagumimu
lewat semua kisah tentangmu...
dari jauh aku larut dalam suka cita mu
bagai bertemu air jernih dipadang tandus...
dari jauh ku lukis engkau dalam tidurku
lewat beragam bunga mimpiku...
dari jauh kutitip hatiku padamu
agar kau tak membenciku.....
















10.9.11

Rindu buat kekasih



Kusingkap tirai cinta
kutatap sayu untaian rindu
gelora jiwa meruntun hiba
ingin selalu bersama

sulaman kasih bertaut sayang
gersang hatiku didanau kesepian
belaian kasihmu melarik ingatan
beradu di mahligai impian

hapuskan sepiku di titian cintamu
agar kuntuman rinduku
bisa mengukir jambangan cintaku
untuk kupersembahkan
buatmu kekasih....

kalimah syahdu ku lagukan 
lantaran ku titipkan
hembusan rindu di angin lalu
mengertilah bisikan hatiku....

Hatiku milikMU


Puas sudah
kucari kebahagiaan
disisi teman-teman
kudapat hanyalah kelalaian
kucari lagi
di hati seorang kekasih
kudapat hanyalah kekecewaan
dan ku terus mencari
dalam meniti hari
penuh kekosongan

Oh! dimana lagi harus ku mencari
membawa sekeping hati
yang sarat kerinduan
rindu yang tiada haluan
aku keliru sendiri 
apa yang kucari
apa yang kuperlukan
aku tak bisa mengerti
yang pasti
kekosongan minta diisi....

Sejenak ku tersedar
aku mencari cinta agung
buat jiwaku yang merindukan
hakikat kebenaran
cahaya yang membelah kegelapan
melimpah cemerlang mengisi kekosongan

Ku sedar
destinasi pencarianku disini
ku mencari-MU Tuhan
mengharap keredhaan
menagih kebahagiaan
dari sinar cahaya iman....




~Fatimah Syarha M Nordin