13.8.11

AKU HANYA INGIN MENANGIS




Aku hanya ingin menangis
membuang segala gundah yang terbeku dihati
biarkan iannya cair
sendiri bersama diriku ini


Aku hanya ingin menangis
kerana aku yakin manusia tidak memahami
yang tersayang juga tidak akan mengerti
dari aku berbicara dan dipandang dengan seribu muka


aku hanya ingin menangis
sendiri bersama diriku ini
titisan itu teman karib
buat yang terpencil
bukan semua manusia memahami semua bahasa
bukan semua yang disayang akan mencintai diri semula


Akrab hilang bila berjauh
yang wujud sentiasa hanya DIA
bicara berat hendak diluah
maka tangis adalah bahasa termudah


aku hanya ingin menangis 
menenangkah hati yang menggeletar
biarkan segalanya mencair,
sendiri bersama diriku ini....


9.8.11

Dari dasar hati kecil ini

Dari dasar hati kecil ini
Dari mulut yang penuh janji
Atas nama cinta yang suci
Dan rasa sayang setulus hati
Kuucapkan beribu terima kasih
Terima kasih kau tambatkan perahu cintamu
Di pelabuhan hati kecilku
Terima kasih kau tapakkan rasa sayangmu
Di pulau kecil dalam diriku
Terima kasih kau tanam benih rindumu
Di gersangnya kalbuku
 
Kini….
Benih cinta yang kau tanam
Tumbuh subur dan menghujam kedalam
Takkan goyah oleh badai yang menghantam
Takkan sunyi oleh heningnya malam

Kuberdoa
Smoga kasih sayang kita
Takkan hilang spanjang masa
Takkan tercampur oleh semua dusta
Takkan luntur karna usia
Hingga kita selalu bersama
Merajut benang cinta
Menyulam kain sayang kita berdua
Abadi tuk selamanya….


6.8.11

Indahkah hidup




Hidup tak selalunya indah
tapi kan terasa indah
andai hidup dinaungi Allah

Indahnya usia
andai tepu dengan ketaatan
 alangkah kasihan
andai hidup bergelojak kefasiqan
dan nanti
di pengakhiran
apakah yang ingin dikenangkan
pada episod dosa
yang mengalirkan air mata
yang meruntunkan hati
ketika dikenang kembali
sekadar iktibar
yang mustahil
diubah lagi

Hargailah hayatmu
selagi tersisa

30.6.11

Yang masih mencari

berat..
kosong..
jiwa resah, hati gelisah
sendiri
walau bukan sendiri
hati masih meronta
jiwa masih merintih
apakah perlu lagi
selain dari Mu kekasih?

dalam lorong gelap
kau beri sinar
dalam malam suram
kau hadirkan rembulan
tapi mengapa aku masih perlu bintang?

dadaku sempit
isinya sedikit
tabahnya bagai emping rapuh
ditolak, diagah, jatuh
apa tidak cukupkah
kasih yang Satu?

diri masih mencari
masih mahu berlari
dalam tatih
dalam rangkak
sujud yang tidak punya nilai
apa lagi perlu aku
sedang Kau ada di situ?

jadi burung yang punya sayap
tapi masih perlu angin
apakah aku ini cuma tidak erti
makna syukur?

jadi bunga teguh berdiri
hadir madu manis
hadir haruman wangi
punya duri pelindung diri
tapi mengapa masih perlu kumbang?

saat aku tidak mengerti
saat aku merintih sepi
masih juga padaMu aku kembali
tapi mengapa?
mengapa jiwa masih derita?
jauh
aku masih jauh
maaf aku perlu selainMu
dalam mencari erti diriMu

29.6.11

sajak duka



Sajak duka kutulis untukmu
Bait-baitnya adalah air mata
Aksaranya serpihan hati yang terluka
Sajak duka kutulis jua
Penuh doa agar engkau membacanya
Mengharap pengertian
Bila kau muak, bertambahlah dukaku
Selarik puisi duka kupersembahkan untukmu
Dengan air mata
Minus tawa
Tanpa senyum
Puisi dukaku telah kau terima
Ia merasukimu
Meluruhkan tirani hatimu
Adakah kau memahami dukaku

24.6.11

Cinta dunia

Cinta dunia
membuatkan manusia cintakan diri
Cintakan diri
membawa manusia hidup nafsu-nafsi
Cintakan dunialah
membawa pecahnya sanak saudara
Apatah lagi sekadar kenalan dan kawan-kawan biasa

Cintakan duniahilang kasih sayang sesama manusia
Cinta dunialah yang membunuh kasih sayang
dan memecahkan perpaduan keluarga dan bangsa
Akhirnya timbul perpecahan dan perseteruan di kalangan manusia
Pergaduhan pun berlaku, perkelahian terjadi  peperangan berlaku

Cintakan dunia ibarat racun membunuh kasih sayang
Cinta dunia adalah musuh manusia sejagat
Tapi manusia tidak sedar dan tidak faham
Sungguh kejam cinta dunia itu
Ia mengharu-birukan kehidupan manusia
Ia merenggangkan persaudaraan,
memecah-belahkan bangsa dan saudara


17.6.11

Kecewa itu ada....marah itu menyala

Jangan Tanya ombak di lautan
Yang berdebur pun bagai enggan 
Kecewa itu ada, benci itu pasti 
Dan semuanya yang berbuih 
Ikut sirami bunga yang berduri 
Tebaran makar para penguasa
Membakar laksana kenanganmu
Membunuh separuh jiwaku

Hidupku hanya sebatas perilaku
Luka itu ada, marah itu menyala 
Tapi aku hanya bisa begini 
Meratapi diri

Terimakasih zahir dan batin...
Telah menjadi mataku 
saatku tak dapat melihat 
Menjadi bibirku 
saatku tak dapat bicara
Terima kasih awal dan akhir...
Suatu saat ….jika aku terjatuh 
Engkau pasti mau memapah ku 
Kini aku harus terus bertahan
Di tengah keruntuhan ku
Seperti debur ombak di lautan
Walau enggan…


purnama kata