9.2.11

TENTANG KEBAIKAN

by Nurani Hani on Wednesday, February 9, 2011 at 6:04am

Ambillah kebaikan
dari orang yang mempunyai kebaikan
dan tinggalkanlah keburukan yang ada pada orang yang mempunyai keburukan.
Latihlah diri kita untuk membalas dengan kebaikan
kepada orang-orang yang telah berbuat keburukan kepada kita.
Belajarlah menahan diri dari selalu ingin melihat jasa dan kebaikan sendiri.
Orang yang ikhlas itu bijak menyembunyikan kebaikannya
sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya.
Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada akal yang diperindah dengan ilmu,
ilmu dengan kebenaran,
kebenaran dengan kebaikan,
dan kebaikan dengan taqwa.
Orang yang beriman itu mempunyai upaya untuk mengajak kepada kebaikan,
mengajak kepada perkara-perkara yang akan mendekatkan kepada Allah
dan melarang dari perbuatan yang tidak disukai Allah.


8.2.11

berkurang usiaku

tika ini....
berkurangan usiaku
waktu menjadi singkat
menuju noktah kehidupan
yang tidak terlihat dipenghujung jalan
entah esok atau lusa.......

detik ini
meragui waktu-wakru berlalu
merasa hiba seusai umur
sericih cuma bilangan amal
seiris jua hitungan kebajikan
sekerdil itu dalam golongan
masih alpa dunia fana......

hari ini
tidak mengapa tiada keraian
tiada jua lafaz keindahan
kerana malu kealpaan
kerana miskin keimanan
redha aku kesepian
cukuplah DIA meneman
sepanjang masa kesingkatan....

hari ini kurang usia

hari ini
berkurangan usia
ada yang berkata bertambah usia....
semoga panjang umur
masih panjangkah umur itu ?
mengapa semoga panjang umur
sedang ia bertambah singkat
menuju noktah kehidupan....?
ahhh.....betapa pura-puranya
ucapan itu

hari ini
sendu sendiri
bertanya hitungan waktu
apakah telah terjadi sepanjang usia berlalu
berapakah banyak hitungan amal
berapakah banyak titik-titik noda
berapakah lagi tinggal sisa usia
masih terpana dan alpa
terasa sesal melanda
sekelumit cuma rasa
pada sisa usia.....

6.2.11

kesunyian yang sepi

Kesunyian..
Suatu anugerah pada sekeping hati yang kesepian.
Kesunyian..
Suatu ketabahan pada jiwa yang kelukaan
Kesunyian..
Suatu penyiksaan pada penantian kasih abadi.

Kiranya ada tercalar dihati,
kiranya ada tercalar di kata,
buat kenangan akhirnya,
sambutlah kasihku yang tulus

Pada saat pengakhiran ini,
terasa diri ini begitu terasing,
terasa diri ini terlalu sunyi,
ketika itu,
suaramu aku terdengar,
membisikkan sayang
menyatakan cinta.

Kasih,
kupohon padamu..
Kuharap daripadamu..
Hulurkan aku..
Secebis harapan,
sekelumit kasih..
untuk kuubati kelukaan lalu

Kasih,
sudikah kiranya kau hamparkan padaku saujana harapan
untuk mengecapi setitis kebahagian,
walau..sepi tanpa berkasih.

5.2.11

bintang cinta

Dari jauh aku memuja bintang indah nun jauh di sana.
Apa kan daya hendak ku gapai tangan tak sampai,
hendak ku abai terasa sayang.
Kerlipannya yang bergemerlapan memukau pandangan insan.
Persis intan berlian yang begitu berharga.
Menghiasi langit terbentang.
Menjadi pedoman kepada sang musafir di tengah lautan,
mencetuskan ilham
madah-madah cinta nan indah kepada sang pujangga.

Sayang....
bukan aku tidak ingin berada di sisi mu,
aku khuatir kilauan mu akan malap
ditelan kegelapan yang menyelubungi diri ini…
Biarlah aku terus memuja diri mu
sebagai seorang pencinta rahsia
agar kau terus bersinar
dan melimpahkan cahaya suci untuk semua.

3.2.11

cinta mata pena

Lewat nota-nota cinta mu
kau hadiahkan aku dengan kata-kata
dan madah-madah cinta yang mengasyikkan.
Betapa aku terlena dan terbuai dengan janji-janji mu.
Aku menjadi perindu sepi kepada ayat-ayat yang bisu.
Aku persis Sang Pungguk yang merindukan bulan.
Bulan yang dari kejauhan tampak indah bercahaya
dan berseri menerangi malam yang kelam.
Tapi kita sering lupa bahwa cahaya itu adalah cahaya pinjaman cuma.
Keindahan yang bersifat sementara,
keindahan yang merupakan kepuraan semata-mata.
Begitulah diri mu.
Aku terikat pada janji-janji pena mu.
Aku mengharap pada kasih yang tak pasti.
Aku memuja bayangan dirimu.
Coretan pena mu memukau diri ku
agar aku terus percaya dan lupa kepada realiti.
Tapi kini aku sedar…
aku perlu kembali ke alam nyata.
Aku harus lupakan kuasa pena mu,
aku harus lontarkan segalanya jauh dari hidup ku.
Biarlah nota-nota cinta mu menjadi sejarah.
Sejarah pahit yang mengajar aku menjadi lebih dewasa dalam cinta.
Usah kau permainkan aku lagi dengan pena mu…



~soba

31.1.11

abadi yang lebur

Biar bulan bicara sendiri.
Dan ada yang mendengarnya dalam dekam malam.
Biarlah cahayanya tumpah pada segala hala,
kerana yang indah tiada,
selain tumpah cahaya Cinta Abadi.
Meski payah difahami.
Indahcahaya-Nya memberi suluh jalan yang berliku.

Malam menyeberangkan cahaya.
Meski pekat kelam,
benar, aksara alam tahu rahsia makna yang sewaktu bersapa.
Menggamit dan tak pernah pamit,
tak mungkin dipandang
tapi dinikmati dalam bahagia
 Meski tak ada suara,
padu tersemat dalam kalbu.
Meski juga sunyi, yang harus
diriwayati dan dipunyai.








Hasyuda