5.2.11

bintang cinta

Dari jauh aku memuja bintang indah nun jauh di sana.
Apa kan daya hendak ku gapai tangan tak sampai,
hendak ku abai terasa sayang.
Kerlipannya yang bergemerlapan memukau pandangan insan.
Persis intan berlian yang begitu berharga.
Menghiasi langit terbentang.
Menjadi pedoman kepada sang musafir di tengah lautan,
mencetuskan ilham
madah-madah cinta nan indah kepada sang pujangga.

Sayang....
bukan aku tidak ingin berada di sisi mu,
aku khuatir kilauan mu akan malap
ditelan kegelapan yang menyelubungi diri ini…
Biarlah aku terus memuja diri mu
sebagai seorang pencinta rahsia
agar kau terus bersinar
dan melimpahkan cahaya suci untuk semua.

3.2.11

cinta mata pena

Lewat nota-nota cinta mu
kau hadiahkan aku dengan kata-kata
dan madah-madah cinta yang mengasyikkan.
Betapa aku terlena dan terbuai dengan janji-janji mu.
Aku menjadi perindu sepi kepada ayat-ayat yang bisu.
Aku persis Sang Pungguk yang merindukan bulan.
Bulan yang dari kejauhan tampak indah bercahaya
dan berseri menerangi malam yang kelam.
Tapi kita sering lupa bahwa cahaya itu adalah cahaya pinjaman cuma.
Keindahan yang bersifat sementara,
keindahan yang merupakan kepuraan semata-mata.
Begitulah diri mu.
Aku terikat pada janji-janji pena mu.
Aku mengharap pada kasih yang tak pasti.
Aku memuja bayangan dirimu.
Coretan pena mu memukau diri ku
agar aku terus percaya dan lupa kepada realiti.
Tapi kini aku sedar…
aku perlu kembali ke alam nyata.
Aku harus lupakan kuasa pena mu,
aku harus lontarkan segalanya jauh dari hidup ku.
Biarlah nota-nota cinta mu menjadi sejarah.
Sejarah pahit yang mengajar aku menjadi lebih dewasa dalam cinta.
Usah kau permainkan aku lagi dengan pena mu…



~soba

31.1.11

abadi yang lebur

Biar bulan bicara sendiri.
Dan ada yang mendengarnya dalam dekam malam.
Biarlah cahayanya tumpah pada segala hala,
kerana yang indah tiada,
selain tumpah cahaya Cinta Abadi.
Meski payah difahami.
Indahcahaya-Nya memberi suluh jalan yang berliku.

Malam menyeberangkan cahaya.
Meski pekat kelam,
benar, aksara alam tahu rahsia makna yang sewaktu bersapa.
Menggamit dan tak pernah pamit,
tak mungkin dipandang
tapi dinikmati dalam bahagia
 Meski tak ada suara,
padu tersemat dalam kalbu.
Meski juga sunyi, yang harus
diriwayati dan dipunyai.








Hasyuda

mencari cinta abadi

Ada hati yang terluka,
Ada tangisan di bibir mata,
Ada derita meruntun jiwa,
Ada jiwa tiada bernyawa…
Hati ini sedih sekali,
Ada derita silih berganti,
Ingin pergi membawa diri,
Tempat mengadu hanya Ilahi….
Moga luka boleh diubati,
Moga jiwa hidup kembali,
Moga hati tidak mati,
Moga derita berlalu pergi….
Siapa sangka siapa menduga,
Bahagia dicari derita tiba,
Mengadu nasib pada yang Esa,
Moga tenang seluruh jiwa....

maafkan aku....

aku adalah insan yang tak punya
hanya rasa cinta membara
aku bukanlah wanita hebat
bukan jua bijaksana
tidak juga harta dan rupa
tidak tinggi akhlak budi
tidak juga pelajaran tinggi
benar aku tahu diri...

lafazku sekedar cuma
tingkahku itulah ada
apalah dibanding dirimu
segala arif lagi bijaksana
segala harta dan rupa

maafkan aku !
lafazku sering menyinggung rasa
tingkahku mengguris jiwa
aku hanya insan biasa
sering alpa dunia
bukanlah niat sedia ada
kerana aku tiada istimewa
inilah aku adanya....

30.1.11

siapa dirimu




Siapakah sebenarnya kau, duhai insan Tuhan
Kau menelusup di seluruh belahan diriku
Bersembunyi di setiap sudut persendianku
Berenang lincah bersama aliran darahku
Seakan kau tak akan pergi dari diriku
Siapakah sebenarnya kau, duhai insan Tuhan
Ketika ingin ku pejamkan mata
Kau hadir dengan senyum manismu
Mengisi di setiap titik anganku
Namun jika ku membuka mata dan terjaga
Kau menari dihadapanku
Bagaimana aku harus bertindak ?
Saat-saat
Setiap waktu
Detik
Menit
Jam
Kau seakan peluk erat diriku
Tak dapatkah aku lepas dari bayangmu ?
Siapakah sebenarnya kau, duhai insan terkasih
Walau hadir hanya dalam alam bawah sadarku
Kau telah menyisakan seribu bayang
Yang tak akan punah meski semua berlalu
Kau juga menorehkan sebuah rasa
Yang tak dapat aku mengerti
Rindukah?




sunyi

Lafaz cinta terlipat rapi
Dalam sunyi yg memelukku erat
Aku ingin memaknai air mata
Tapi dinding rasaku telah beku

Muara hatiku telah gersang
Aku lelah mencerna kata
Serpih2 tetap saja terurai bisu
Ada luka yg bertahta disana
Tersudut brsama sketsa senyum rindu
Yg kusebut itu cinta..